Sore ini Tita mengikuti kelas tambahan yang di adakan oleh
Dosennya di kampus. Tita duduk di tengah, di antara kedua temannya, Vina dan Willy. Ketika
sedang asik memperhatikan presentasi dari kelompok teman yang lain, Vina
memanggil Willy dengan nada sedikit berbisik karena Dosen berada dua bangku di belakang
mereka.
“Wil, bagi kertas dong. Aku gak bawa.”
Sudah biasa Vina tidak membawa peralatan kuliah
lengkap.
Willy tidak menjawab, dia langsung mengambil buku di dalam
tasnya dan merobek satu halaman belakang di bukunya dan langsung memberikannya
kepada Vina. Vina mengucapkan terima kasih ketika ia mengambil kertas dari tangan
Willy. Namun ketika Vina melihat bahwa kertas yang diberikan Willy hanya satu
halaman dan bukan satu lembar, maka Vina menggerutu kepada Willy.
“Ya ampun, Wil, kamu pelit banget sih, Cuma satu halaman.
Biasa tuh ya orang lain kasihnya satu lembar sekalian, gak setengah-setengah
gini.”
Tita yang sedaritadi diam di tengah-tengah keduanya,
seketika mengambil kertas itu kemudian merobek sedikit ujung dari kertas itu.
Vina terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Tita terhadap kertasnya.
“Kok di robek Ta?” tanya Vina dengan suara yang sedikit
berat.
“Aku bakal robek sedikit demi sedikit setiap kali kamu
ngeluh karena Cuma dapet satu halaman, bukan satu lembar.”
Vina Cuma diam. Tapi, tampak di wajahnya sedikit rasa kesal
karena Tita merobek kertasnya. Willy yang melihat Tita yang seakan memarahi Vina
yang menggerutu, mengambil kembali buku dalam tas yang tadi di keluarkan untuk membagi
kertas kepada Vina.
“Sori lho Vin, bukan gak mau kasih kamu satu lembar tapi
emang aku gak bisa kasih. Soalnya tengah-tengah bukuku udah penuh, dan itu juga
kertas terakhir dari bukuku. Aku Cuma bawa satu hari ini.” ucap Willy dengan mengangkat buku biru muda tipis di depan Tita dan Vina.
Vina yang diam mulai mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan
dan melihat ke dalam tas Willy dan memang Willy hanya membawa satu buku saat
itu. Wajah Vina seketika berubah, menunjukan rasa bersalah karena telah berprasangka
negatif terhadap Willy.
“Sori banget ya Wil, aku gak tau kalau kamu Cuma bawa satu
buku dan ini kertas terakhir kamu.”
“Hahahaha, iya, gak apa-apa, santai aja. Yang penting
sekarang kamu tau kalau aku gak mungkin setega itu sama teman aku sendiri.”
Dari ilustrasi yang sering di alami oleh setiap kita dalam kehidupan nyata, ada 3 hal yang dapat kita jadikan pelajaran dalam hidup ini.
1. BERSYUKUR
Menurut kalian mengapa tiba-tiba Tita merobek sedikit kertas itu? Dan mengatakan bahwa ia akan merobeknya lagi setiap kali Vina mengeluh?? Seringkali ketika kita telah mendapatkan apa yang kita minta, namun kita justru ingin meminta yang lebih dari yang telah diberikan. Tanpa sadar, keserakahan itu membuat kita justru kehilangan sedikit demi sedikit apa yang telah kita miliki sebelumnya. Dapat di bayangkan apa yang terjadi dengan kertas Vina, jika ia terus mengeluh? Kertas itu akan HABIS! Kertas itu tidak akan utuh lagi, dan hanya akan menjadi serpihan-serpihan kertas kecil. Hidup bukan belajar bagaimana kita terus berusaha untuk mendapatkan apapun yang kita mau/inginkan, namun bagaimana kita dapat BERSYUKUR dengan apa yang telah kita miliki.
Menurut kalian mengapa tiba-tiba Tita merobek sedikit kertas itu? Dan mengatakan bahwa ia akan merobeknya lagi setiap kali Vina mengeluh?? Seringkali ketika kita telah mendapatkan apa yang kita minta, namun kita justru ingin meminta yang lebih dari yang telah diberikan. Tanpa sadar, keserakahan itu membuat kita justru kehilangan sedikit demi sedikit apa yang telah kita miliki sebelumnya. Dapat di bayangkan apa yang terjadi dengan kertas Vina, jika ia terus mengeluh? Kertas itu akan HABIS! Kertas itu tidak akan utuh lagi, dan hanya akan menjadi serpihan-serpihan kertas kecil. Hidup bukan belajar bagaimana kita terus berusaha untuk mendapatkan apapun yang kita mau/inginkan, namun bagaimana kita dapat BERSYUKUR dengan apa yang telah kita miliki.
2. PENGORBANAN
Ketika Willy memberikan kertas ‘terakhir’ dari buku ‘satu-satu’nya yang dia bawa saat itu, bukankah kita melihat bahwa sebenarnya ada suatu PENGORBANAN yang di lakukan Willy untuk Vina? Namun, Vina justru menggerutu dan mengatakan Willy ‘pelit’ tanpa melihat bahwa Willy sendiri tidak dapat menulis catatan karena kertas terakhir diberikannya untuk Vina. Seberapa banyak dari kita yang sering menutup mata untuk pengorbanan yang dilakukan oleh orang lain untuk kita? Tanpa melihat bahwa ada yang dikorbankan untuk membuat kita tetap merasa aman dan nyaman, kita terus meminta lebih. Tidak ada pemberian yang LEBIH BERNILAI BESAR daripada nilai sebuah PENGORBANAN!
Ketika Willy memberikan kertas ‘terakhir’ dari buku ‘satu-satu’nya yang dia bawa saat itu, bukankah kita melihat bahwa sebenarnya ada suatu PENGORBANAN yang di lakukan Willy untuk Vina? Namun, Vina justru menggerutu dan mengatakan Willy ‘pelit’ tanpa melihat bahwa Willy sendiri tidak dapat menulis catatan karena kertas terakhir diberikannya untuk Vina. Seberapa banyak dari kita yang sering menutup mata untuk pengorbanan yang dilakukan oleh orang lain untuk kita? Tanpa melihat bahwa ada yang dikorbankan untuk membuat kita tetap merasa aman dan nyaman, kita terus meminta lebih. Tidak ada pemberian yang LEBIH BERNILAI BESAR daripada nilai sebuah PENGORBANAN!
3. PENGAMPUNAN
Willy yang merasa bersalah kepada Vina, menjelaskan kepadanya alasan mengapa ia hanya dapat memberikan satu kertas halaman kepada Vina dan bukan selember kertas utuh. Vina yang mendengarnya tidak langsung mempercayai ucapan Willy, ia lantas melirik ke dalam tas Willy untuk membuktikan ucapan Willy. Setelah membuktikan ucapan Willy adalah benar adanya, Vina seketika merasa sangat menyesal dan bersalah kepada Willy. Ia meminta maaf kepada Willy karena telah berprasangka buruk kepadanya bahkan tidak langsung mempercayai penjelasannya. Lalu apa respon Willy? Willy mengatakan ‘tidak apa-apa’. Ia MENGAMPUNI Vina! Tanpa memarahi balik Vina karena telah mengejeknya dan tidak mempercayainya. Mudahkah kita mengucapkan ‘tidak apa-apa’ kepada orang yang telah melukai hati kita? Mudahkah kita mengampuni mereka yang telah menyakiti kita? Seberapa banyak dari kita justru tanpa di sadari lebih memilih hidup dalam bayang-bayang kekecewaan akan perbuatan orang lain terhadap kita? Dalam setiap ajaran agama manapun, PENGAMPUNAN menjadi suatu tanda atau bukti nyata dari aplikasi CINTA dan KASIH terhadap sesama. Tuhan pun mengampuni kita, umatnya yang berdosa. Lalu, bagaimana bisa kita tidak melihat diri kita yang telah di ampuni untuk dapat mengampuni orang lain? Bagaimana mungkin kita merasa seolah-olah kita tidak pernah menyakiti orang lain sehingga org lain yang melukai kita tidak layak untuk di ampuni?
Selama kita hidup, selama itu juga lah kita
akan terus berjalan dalam setiap proses kehidupan dari Sang Pencipta dan dalam
setiap cerita kehidupan yang kita jalani, akan selalu ada makna yang dapat
dijadikan suatu pelajaran berharga untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Tuhan Memberkati !
Natasha Tritama Dewi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar